Kamis, 23 April 2020

Analisa Kecemasan tertular wabah corona hingga berprasangka terhadap orang lain, takut tertular (UTS)

Analisa kecemasan tertular wabah corona hingga berprasangka terhadap orang lain, takut tertular.

Sebuah KLB yang terjadi pada tahun ini menggemparkan jagat alam bumi. Semua orang berlomba-lomba saling menjaga diri, saling memberi, bahkan saling mengasihi. Namun juga tidak sedikit seseorang yang justru menebar ketakutan, membesar-besarkan masalah kecil, membuat-buat berita tanpa tanggung jawab akan kejelasannya, dari mulut ke mulut pun terjadi penyebaran kabar yang belom tentu akan kebenaranya.
Dari situlah tumbuh rasa ketakutan terhadap covid-19 ini, dari berbagai media yang memberitakan. Sebuah perasaan emosi muncul melalui kecemasan dan ketakutan akan orang lain yang bisa menularkan virus tersebut. Seakan mengamuk dan gelisah dalam diri sendiri akan adanya virus ini yang diberitakan begitu terlihat sangat ganas dan menyeramkan. Semua ini dirasakan oleh semua penikmat sosmed khususnya yang setiap hari bisa update berita terbaru tentang virus ini.
Dari semua permasalahan diatas saya berfikir bahwa semua itu adalah perasaan emosi yang terlalu mendalam dan tidak terkontrol dengan sebuah tindakan jadi menurut saya dengan Pendekatan REBT dapat digunakan dalam kasus ini. Dimana terapi ini menekankan perasaan emosi dengan berfikir secara sehat serta berperilaku.
Dan dengan teknik ABCDEF insyaAllah kecemasan akan berkurang dan menghilang, karena dalam teknik ini menekankan perasaan emosi :
A (Activating Event) nah disini peristiwa tersebut adalah sebuah kecemasan terhadap corona dan ketakutan pada orang lain. Dari sini kita mampu mengajak konseli bahwa setiap manusia juga mempunyai rasa takut dalam hidupnya.
B (Belief) keyakinan, nah disini kita bisa berfikir virus ini ada karena adanya Sang Pencipta begitupun juga dengan kita, dan kita pun semua juga akan kembali kepada Sang Kuasa.
C (Consequence) konsekuensi, disini konseli dipandu bahwa resiko dari membaca berita, menambah kecemasan setelahnya. Oleh karena itu bila tidak mampu memfilter berita secara baik lebih baik mencari hiburan lain dan selalu tetap ikhtiar/waspada.
D (Disputing irrational belief) tindakan terapi, dampak dari baca berita covid-19 bila hanya akan menambah kecemasan, dan itu perlu kurangi dan jaga perasaan emosinya terhadap peristiwa virus ini yang membaca beritnya hanya akan cemas, alangkah baiknya melihat sesuatu yg lain, membahagiakan untuk mengurangi perasaan cemas ini.
E (Effective) dari hasil ABCD ini maka efektif, setelah mengurangi dan mampu memfilter berita dengan jelas, perasaan cemas pun semakin surut menghilang dan menghadapi dengan santai tanpa harus takut berlebihan dengan orang lain yang mampu menularkan.
F (Felling) perasaan baru, dari semua tahapan itu maka muncul sebuah perasaan yang dulunya takut karena seringnya membaca berita tentang covid-19 dan belom mampu memfilter setiap berita, sekarang sudah yakin akan setiap proses kehidupan dan mampu berfikir enjoy tanpa takut dan cemas berlebihan dengan tetap waspada dan terus berdo'a mendekatkan kepada Sang Pecipta karena semua ini ada sudah menjadi kehendak Allah SWT.

Analisa Siswa PAUD atau MI sederajat yang mengalami kebosanan Learn From Home (LFH)

Analisa siswa PAUD atau MI sederajat yang mengalami kebosanan Learn From Home (LFH)

Pagi yang cerah senyum anak yang indah, semua itu akan dirasakan setiap orang tua yang setiap pagi selalu bangun petang, menyiapkan keperluan anak sebelum bersekolah. Sebuah kebahgaian orang tua yang sulit diungkpakan melihat anaknya tumbuh dan bersemangat untuk belajar dibangku pendidikan. Pastinya anak yang baru menempuh pendidikan di PAUD sampai MI mereka masih memilik kelucuan dan keluguan dalam semua tingkahnya.
Sebuah KLB di tahun ini mengakibatkan semua aktifitas yang banyak mengumpulkan masa dihentikan, dampak ini juga berlangsung dalam dunia pendidikan hingga semua aktifitas KBM diliburkan dalam lingkungan sekolah diganti dengan belajar dirumah.
Hal ini menjadikan sebuah kebudayaan/kebiasaan baru bagi seorang anak yang terbiasa belajar dengan guru dan teman-temanya disekolah. Sehingga anak terpaksa belajar dirumah bersama orang tuanya dengan suasana yang sama, dan cara orang tua pun berbeda dengan guru disekolahnya, yang menjadikan anak jenuh dan belom terbiasa dengan kondisi dan keadaan yang ada , hal ini justru membuat kemalasan anak belajar dirumah karena tidak kenyamanan dan ketentraman dalam belajar.
Semua orang tua mempunyai hal yang sama untuk anaknya namun setiap cara mereka berbeda yang itu tanpa disadari membentuk karakter sang anak. Dalam hal ini banyak kasus yang terjadi orang tua bingung dengan anaknya yang terbiasa belajar dengan semangat dan kini menjadi terlihat malas dan bosan untuk belajar.
Seorang anak yang terbiasa disekolah bersama teman-temanya bermain dan belajar karena keinginan unggul dari yang lain menjadikan nya bersemangat dan kini menjadi bosan tanpa ada lawan rival untuk hasil belajarnya. Dan kebiasaan cara/metode guru di sekolah dan orang tua dirumah berbeda membuat sang anak perlu adaptasi baru begitupun orang tuanya.
Dan dalam kasus ini saya merasa yang cocok adalah teori behavioral, dimana perilaku anak bosan terhadap berlajar dari rumah. Dengan teknik /cara token economy disini anak diberikan sebuah reward ketika selesai belajar dengan tahapan yg sesuai oleh anjuran guru seperti dilingkungan sekolah. Seperti halnya sang anak belajar menghitung dan kemudian mampu menjawab soal yang diberikan guru, barulah sang anak di beri seperti entah bintang/stiker/sebuah simbol token yang bisa dijadikan bukti hasil dari belajarnya yang bisa ditukarkan dengan sesuatu barang dengan beberapa token tersebut. Namun ketika anak itu tidak mau belajar dengan respons cost system maka token yang sudah didapatkanya diambil agar anak tidak mengulangi hal yang sama. Dari situlah InsyaAllah anak akan mulai aktif dan hilang bosan dengan permainan token economy dalam belajarnya meski belajar dari rumah, sang anak memiliki motivasi baru dengan mendapatkan banyak token yang dapat ditukar dengan barang yang diinginkanya.

Analisa Mengajarkan Anak-Anak Untuk Menjaga Kebersihan Diri Terkait Wabah Corona (UTS)


Analisa Mengajarkan anak-anak untuk menjaga kebersihan diri terkait wabah corona.

Bermain, kata itu sangat identik dengan masa anak-anak, dimana anak-anak cenderung banyak bermain dalam setiap hal yang dilakukanya. Bukan tanpa sebab mereka melakukan, juga buka tanpa perintah mereka melakukan, memang sudah naluri anak-anak untuk suka bermain, mengembangkan setiap imajinasi dan keinginanya kelak/cita-cita.
Pada tahun kali ini KLB yang terjadi dalam dunia, membuat semua umat manusia gempar penuh kewaspadaan, hingga semua prasarana umum, tempat umum atau yang biasanya ramai oleh aktifitas kini dihentikan begitu saja. Hal ini tentunya sangat terlihat berpengaruh bagi mereka yang sudah faham dan mengerti apa yang sedang terjadi sa'at ini. Berbeda dengan anak-anak, mereka memang juga sudah tahu tentang KLB ini, namun belom mengerti bagimana cara menjaga dari wabah ini. Tentu perlu dampingan seseorang yang lebih dewasa dan faham, pastinya orang tua yang sangat berperan aktif. Seorang anak yang suka bermain tanpa harus memikirkan hal berat, mereka menjadi contoh bagi orang dewasa bagaimana dengan tetap santuy menjalani kehidupan tanpa harus terlalu dalam ketakutan. Peran orang tua ketika wabah ini sangat begitu berpengaruh, dari cara mereka menjaga kebersihan, belajar, dan juga bermain.
Dari hasil analisa itu saya merasa dengan Teknik Time Out karena teknik ini membawa situasi yang lebih menguatkan, dimana sebelum ada wabah anak hanya akan diajarkan kebersihan seperlunya, dan ketika wabah ini terjadi teknik cocok sekali dengan memberi peringatan ketika lupa menjaga kebersihan, bermain kotor-kotor an, dengan teknik ini membantu anak kedalam situasi yang lebih kuat untuk lebih serius dalam kebersihan tidak seperti sebelum adanya wabah ini. Jadi cukup itu bagi saya, karena anak juga masih sulit diberikan pengertian bahaya wabah ini, dan hanya bisa ditegur ketika melakukan sesuatu yang kurang menjaga kebersihan, insyaAllah dengan teknik itu anak akan memahami secara perlahan. Meski juga akan mengulangi hal yang sama.

Analisa Mahasiswa Yang Mengalami Prokratinasi Akademik (UTS)

Analisa Mahasiswa Yang Mengalami Prokratinasi Akademik
Pembawa berubahan bangsa, kesatuan umat manusia, sebuah kata yang identik bagi mereka yang belajar diperguruan tinggi yang dalam kampus dengan istilah mahasiswa. Tidak semua anak yang lulus MA/SMA sederajat mampu melanjutkan kebangku yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Namun bagi saya itu dulu, (hehe) karena sekarang banyak kampus swasta, dengan fasilitas yang sederhana berkembang dan menerima dari semua khalayak dari kalangan bawah hingga atas, berbeda pada tahun 80 an , itu yang pernah saya dengar dari paman saya sewaktu berjuang dilingkup kampus.
Pastinya diumur belasan itu yang dibawah puluhan wajar saja kelabilan dalam tindakan seorang mahasiswa, namun itu juga bukan hanya dari mereka yang berumur belasan menjadi masalah, justru mereka yang sudah sambil bekerja, mendidik, atau aktifitas formal lain dengan berkuliah, mengakibatkan mahasiswa itu harus extra pandai menjaga kesehatan dan waktu. Dan sebuah masalah yang umum bagi mahasiswa mengalami prokratinasi karena dari kesibukan mereka dengan yang lain dan belom mampu menyesuaikan dengan hal baru dan sering mengulang hal yang sama. Karena mahasiswa bukan hanya berperan dalam kampus namun juga dalam segi sosial, masyarakat, pendidikan, pemerintahan, dan organisasi yang sangat menjadi penguat mereka dalam dunia kampus, dari situ mahasiswa ada 3 tipe, pertama hedonis, yaitu tipe mahasiwa dengan memprioritaskan penampilan sesuatu yang baranded, hitz lah, jaman now, itu yang menjadi bersaingnya dunia akademiknya. Dan yang kedua ada mahasiswa Akademis dimana mahasiswa itu hanya berfikir untuk selalu mendapat hasil nilai yang baik, bagus dan unggul, tanpa berkeinginan realisasi keilmuan nya dengan berorganisasi atau kegiatan lain. Dan yang ke tiga ada mahasiswa aktivis, nah ini mahasiwa super duper dablek menurut saya, (haha) dimana saya berfikir mental mahasiswa ini begitu kuat karena seringnya bergelut dalam organisasi dan terjun dalam ranah sosial yang membentuk secara alami kepribadian yang penuh dengan banyak topeng, mereka secara akademik juga bisa unggul dengan semua pengalaman nya dan kemudian baru belajar dalam ruangan kelas, tapi tidak semua mahasiswa aktivis mampu seperti itu, bila lebih membahas jauh akan ada banyak sekali. Dari kecenderungan nya itu masalah mahasiswa ini sudah terlihat dengan lebih memilih untuk berorganisasi yang utama, akademik kesekian.
Dari semua hal analisa saya diatas, mahasiswa yang mngalami prokratinasi akademik itu cocok bila dengan Self Menegement, dimana teknik ini menekankan  pengolahan diri dengan tujuan mahasiswa dalam pribadinya sendiri dan setelah tau akan tujuanya baru memenegement setiap dari pola pikir, tubuh, perasaan, dan juga spiritual. Dari situlah self menegement ini InsyaAllah efektif dalam kasus ini, dimana dari masing-masing mahasiswa yang sudah bisa berfikir logis dengan tipe keinginanya, mereka akan berfikir dua kali ketika akademik mereka tidak sebaik apa yang menjadi kebanggan mereka dari yang lainnya. Jadi dalam tahap reaksi tujuan melakukan pengontrolan terhadap pengubahan pikiran, perilaku, dan perasaan pengubahan secara langsung, dari aspek tersebut cocok dengan kasus ini.
Dan dari prinsip teknik ini pastinya mahasiswa yang prokratinasi memiliki tujuan dan melakukan pengontrolan dari setiap tingkah laku menuju tujuanya, sering mengevaluasi diri dari setiap langkah yang diambil dan membandingkan hasil yang lama dan baru. Itulah penjelasan saya yang InsyaAllah dengan teknik Self Menegement ini mampu mengatasi prokratinasi akademik mahasiswa.

Analisa Pobia Terhadap Belalang (UTS)

Analisa Pobia Terhadap Belalang (Dewasa)
Pobia sering dialami beberapa orang yang dalam masa lalunya pernah trauma, entah pernah mengalami kejadian seperti apa yang sehingga menghantui dan menakutkan ketika melihat hal itu lagi. Dan pobia terhadap belalang bukanlah hal yang baru, karena sebuah ketakutan tidak melihat dari segi apapun melainkan trauma terhadap kejadian masa lalu yang begitu mendalam.
Dan pobia belalang ini saya berfikir cocok dengan teknik Disensitiasi Sistematis, dimana teknik ini menghapus beberpa tingkah laku berlebihan terhadap sesuatu serta memunculkan respon dari pobia tersebut. Dan disensitiasi yang cocok menurut saya adalah disensitiasi in vivo, yang dalam hal ini pobia karena sebuah hewan wujud belalang yang menjadi kekakutan, dalam ini vivo ini mengakibatkan klien dalam situasi aktual yang hirarki, dengan pertama memberikan gambar belalang, apa dari responya, hingga terbiasa bahwa belalang itu tidak jahat/menakutkan, baru dengan media video, karena hirarki ini bisa melalu banyak media untuk mngurangi pobia terhadap belalang ini. Dengan membantu berfikir rasional belalang itu tidak dapat mematikan, dan konseli mengidentifikasi tingkah laku apa yang menimbulkan situasi emosi itu ada dari hirarki yang telah diberikan, dan kemudian melakukan penanggulangan respon dan terus latihan dengan hirarki dan penanggulan sampai terbiasa dan hilang akan rasa ketakutan pobia terhadap belalang, bagi saya insyaAllah teknik itu cocok dengan kasus ini.

Analisa Kecemasan tertular wabah corona hingga berprasangka terhadap orang lain, takut tertular (UTS)

Analisa kecemasan tertular wabah corona hingga berprasangka terhadap orang lain, takut tertular. Sebuah KLB yang terjadi pada tahun ini...