Kamis, 23 April 2020

Analisa Kecemasan tertular wabah corona hingga berprasangka terhadap orang lain, takut tertular (UTS)

Analisa kecemasan tertular wabah corona hingga berprasangka terhadap orang lain, takut tertular.

Sebuah KLB yang terjadi pada tahun ini menggemparkan jagat alam bumi. Semua orang berlomba-lomba saling menjaga diri, saling memberi, bahkan saling mengasihi. Namun juga tidak sedikit seseorang yang justru menebar ketakutan, membesar-besarkan masalah kecil, membuat-buat berita tanpa tanggung jawab akan kejelasannya, dari mulut ke mulut pun terjadi penyebaran kabar yang belom tentu akan kebenaranya.
Dari situlah tumbuh rasa ketakutan terhadap covid-19 ini, dari berbagai media yang memberitakan. Sebuah perasaan emosi muncul melalui kecemasan dan ketakutan akan orang lain yang bisa menularkan virus tersebut. Seakan mengamuk dan gelisah dalam diri sendiri akan adanya virus ini yang diberitakan begitu terlihat sangat ganas dan menyeramkan. Semua ini dirasakan oleh semua penikmat sosmed khususnya yang setiap hari bisa update berita terbaru tentang virus ini.
Dari semua permasalahan diatas saya berfikir bahwa semua itu adalah perasaan emosi yang terlalu mendalam dan tidak terkontrol dengan sebuah tindakan jadi menurut saya dengan Pendekatan REBT dapat digunakan dalam kasus ini. Dimana terapi ini menekankan perasaan emosi dengan berfikir secara sehat serta berperilaku.
Dan dengan teknik ABCDEF insyaAllah kecemasan akan berkurang dan menghilang, karena dalam teknik ini menekankan perasaan emosi :
A (Activating Event) nah disini peristiwa tersebut adalah sebuah kecemasan terhadap corona dan ketakutan pada orang lain. Dari sini kita mampu mengajak konseli bahwa setiap manusia juga mempunyai rasa takut dalam hidupnya.
B (Belief) keyakinan, nah disini kita bisa berfikir virus ini ada karena adanya Sang Pencipta begitupun juga dengan kita, dan kita pun semua juga akan kembali kepada Sang Kuasa.
C (Consequence) konsekuensi, disini konseli dipandu bahwa resiko dari membaca berita, menambah kecemasan setelahnya. Oleh karena itu bila tidak mampu memfilter berita secara baik lebih baik mencari hiburan lain dan selalu tetap ikhtiar/waspada.
D (Disputing irrational belief) tindakan terapi, dampak dari baca berita covid-19 bila hanya akan menambah kecemasan, dan itu perlu kurangi dan jaga perasaan emosinya terhadap peristiwa virus ini yang membaca beritnya hanya akan cemas, alangkah baiknya melihat sesuatu yg lain, membahagiakan untuk mengurangi perasaan cemas ini.
E (Effective) dari hasil ABCD ini maka efektif, setelah mengurangi dan mampu memfilter berita dengan jelas, perasaan cemas pun semakin surut menghilang dan menghadapi dengan santai tanpa harus takut berlebihan dengan orang lain yang mampu menularkan.
F (Felling) perasaan baru, dari semua tahapan itu maka muncul sebuah perasaan yang dulunya takut karena seringnya membaca berita tentang covid-19 dan belom mampu memfilter setiap berita, sekarang sudah yakin akan setiap proses kehidupan dan mampu berfikir enjoy tanpa takut dan cemas berlebihan dengan tetap waspada dan terus berdo'a mendekatkan kepada Sang Pecipta karena semua ini ada sudah menjadi kehendak Allah SWT.

Analisa Siswa PAUD atau MI sederajat yang mengalami kebosanan Learn From Home (LFH)

Analisa siswa PAUD atau MI sederajat yang mengalami kebosanan Learn From Home (LFH)

Pagi yang cerah senyum anak yang indah, semua itu akan dirasakan setiap orang tua yang setiap pagi selalu bangun petang, menyiapkan keperluan anak sebelum bersekolah. Sebuah kebahgaian orang tua yang sulit diungkpakan melihat anaknya tumbuh dan bersemangat untuk belajar dibangku pendidikan. Pastinya anak yang baru menempuh pendidikan di PAUD sampai MI mereka masih memilik kelucuan dan keluguan dalam semua tingkahnya.
Sebuah KLB di tahun ini mengakibatkan semua aktifitas yang banyak mengumpulkan masa dihentikan, dampak ini juga berlangsung dalam dunia pendidikan hingga semua aktifitas KBM diliburkan dalam lingkungan sekolah diganti dengan belajar dirumah.
Hal ini menjadikan sebuah kebudayaan/kebiasaan baru bagi seorang anak yang terbiasa belajar dengan guru dan teman-temanya disekolah. Sehingga anak terpaksa belajar dirumah bersama orang tuanya dengan suasana yang sama, dan cara orang tua pun berbeda dengan guru disekolahnya, yang menjadikan anak jenuh dan belom terbiasa dengan kondisi dan keadaan yang ada , hal ini justru membuat kemalasan anak belajar dirumah karena tidak kenyamanan dan ketentraman dalam belajar.
Semua orang tua mempunyai hal yang sama untuk anaknya namun setiap cara mereka berbeda yang itu tanpa disadari membentuk karakter sang anak. Dalam hal ini banyak kasus yang terjadi orang tua bingung dengan anaknya yang terbiasa belajar dengan semangat dan kini menjadi terlihat malas dan bosan untuk belajar.
Seorang anak yang terbiasa disekolah bersama teman-temanya bermain dan belajar karena keinginan unggul dari yang lain menjadikan nya bersemangat dan kini menjadi bosan tanpa ada lawan rival untuk hasil belajarnya. Dan kebiasaan cara/metode guru di sekolah dan orang tua dirumah berbeda membuat sang anak perlu adaptasi baru begitupun orang tuanya.
Dan dalam kasus ini saya merasa yang cocok adalah teori behavioral, dimana perilaku anak bosan terhadap berlajar dari rumah. Dengan teknik /cara token economy disini anak diberikan sebuah reward ketika selesai belajar dengan tahapan yg sesuai oleh anjuran guru seperti dilingkungan sekolah. Seperti halnya sang anak belajar menghitung dan kemudian mampu menjawab soal yang diberikan guru, barulah sang anak di beri seperti entah bintang/stiker/sebuah simbol token yang bisa dijadikan bukti hasil dari belajarnya yang bisa ditukarkan dengan sesuatu barang dengan beberapa token tersebut. Namun ketika anak itu tidak mau belajar dengan respons cost system maka token yang sudah didapatkanya diambil agar anak tidak mengulangi hal yang sama. Dari situlah InsyaAllah anak akan mulai aktif dan hilang bosan dengan permainan token economy dalam belajarnya meski belajar dari rumah, sang anak memiliki motivasi baru dengan mendapatkan banyak token yang dapat ditukar dengan barang yang diinginkanya.

Analisa Mengajarkan Anak-Anak Untuk Menjaga Kebersihan Diri Terkait Wabah Corona (UTS)


Analisa Mengajarkan anak-anak untuk menjaga kebersihan diri terkait wabah corona.

Bermain, kata itu sangat identik dengan masa anak-anak, dimana anak-anak cenderung banyak bermain dalam setiap hal yang dilakukanya. Bukan tanpa sebab mereka melakukan, juga buka tanpa perintah mereka melakukan, memang sudah naluri anak-anak untuk suka bermain, mengembangkan setiap imajinasi dan keinginanya kelak/cita-cita.
Pada tahun kali ini KLB yang terjadi dalam dunia, membuat semua umat manusia gempar penuh kewaspadaan, hingga semua prasarana umum, tempat umum atau yang biasanya ramai oleh aktifitas kini dihentikan begitu saja. Hal ini tentunya sangat terlihat berpengaruh bagi mereka yang sudah faham dan mengerti apa yang sedang terjadi sa'at ini. Berbeda dengan anak-anak, mereka memang juga sudah tahu tentang KLB ini, namun belom mengerti bagimana cara menjaga dari wabah ini. Tentu perlu dampingan seseorang yang lebih dewasa dan faham, pastinya orang tua yang sangat berperan aktif. Seorang anak yang suka bermain tanpa harus memikirkan hal berat, mereka menjadi contoh bagi orang dewasa bagaimana dengan tetap santuy menjalani kehidupan tanpa harus terlalu dalam ketakutan. Peran orang tua ketika wabah ini sangat begitu berpengaruh, dari cara mereka menjaga kebersihan, belajar, dan juga bermain.
Dari hasil analisa itu saya merasa dengan Teknik Time Out karena teknik ini membawa situasi yang lebih menguatkan, dimana sebelum ada wabah anak hanya akan diajarkan kebersihan seperlunya, dan ketika wabah ini terjadi teknik cocok sekali dengan memberi peringatan ketika lupa menjaga kebersihan, bermain kotor-kotor an, dengan teknik ini membantu anak kedalam situasi yang lebih kuat untuk lebih serius dalam kebersihan tidak seperti sebelum adanya wabah ini. Jadi cukup itu bagi saya, karena anak juga masih sulit diberikan pengertian bahaya wabah ini, dan hanya bisa ditegur ketika melakukan sesuatu yang kurang menjaga kebersihan, insyaAllah dengan teknik itu anak akan memahami secara perlahan. Meski juga akan mengulangi hal yang sama.

Analisa Mahasiswa Yang Mengalami Prokratinasi Akademik (UTS)

Analisa Mahasiswa Yang Mengalami Prokratinasi Akademik
Pembawa berubahan bangsa, kesatuan umat manusia, sebuah kata yang identik bagi mereka yang belajar diperguruan tinggi yang dalam kampus dengan istilah mahasiswa. Tidak semua anak yang lulus MA/SMA sederajat mampu melanjutkan kebangku yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Namun bagi saya itu dulu, (hehe) karena sekarang banyak kampus swasta, dengan fasilitas yang sederhana berkembang dan menerima dari semua khalayak dari kalangan bawah hingga atas, berbeda pada tahun 80 an , itu yang pernah saya dengar dari paman saya sewaktu berjuang dilingkup kampus.
Pastinya diumur belasan itu yang dibawah puluhan wajar saja kelabilan dalam tindakan seorang mahasiswa, namun itu juga bukan hanya dari mereka yang berumur belasan menjadi masalah, justru mereka yang sudah sambil bekerja, mendidik, atau aktifitas formal lain dengan berkuliah, mengakibatkan mahasiswa itu harus extra pandai menjaga kesehatan dan waktu. Dan sebuah masalah yang umum bagi mahasiswa mengalami prokratinasi karena dari kesibukan mereka dengan yang lain dan belom mampu menyesuaikan dengan hal baru dan sering mengulang hal yang sama. Karena mahasiswa bukan hanya berperan dalam kampus namun juga dalam segi sosial, masyarakat, pendidikan, pemerintahan, dan organisasi yang sangat menjadi penguat mereka dalam dunia kampus, dari situ mahasiswa ada 3 tipe, pertama hedonis, yaitu tipe mahasiwa dengan memprioritaskan penampilan sesuatu yang baranded, hitz lah, jaman now, itu yang menjadi bersaingnya dunia akademiknya. Dan yang kedua ada mahasiswa Akademis dimana mahasiswa itu hanya berfikir untuk selalu mendapat hasil nilai yang baik, bagus dan unggul, tanpa berkeinginan realisasi keilmuan nya dengan berorganisasi atau kegiatan lain. Dan yang ke tiga ada mahasiswa aktivis, nah ini mahasiwa super duper dablek menurut saya, (haha) dimana saya berfikir mental mahasiswa ini begitu kuat karena seringnya bergelut dalam organisasi dan terjun dalam ranah sosial yang membentuk secara alami kepribadian yang penuh dengan banyak topeng, mereka secara akademik juga bisa unggul dengan semua pengalaman nya dan kemudian baru belajar dalam ruangan kelas, tapi tidak semua mahasiswa aktivis mampu seperti itu, bila lebih membahas jauh akan ada banyak sekali. Dari kecenderungan nya itu masalah mahasiswa ini sudah terlihat dengan lebih memilih untuk berorganisasi yang utama, akademik kesekian.
Dari semua hal analisa saya diatas, mahasiswa yang mngalami prokratinasi akademik itu cocok bila dengan Self Menegement, dimana teknik ini menekankan  pengolahan diri dengan tujuan mahasiswa dalam pribadinya sendiri dan setelah tau akan tujuanya baru memenegement setiap dari pola pikir, tubuh, perasaan, dan juga spiritual. Dari situlah self menegement ini InsyaAllah efektif dalam kasus ini, dimana dari masing-masing mahasiswa yang sudah bisa berfikir logis dengan tipe keinginanya, mereka akan berfikir dua kali ketika akademik mereka tidak sebaik apa yang menjadi kebanggan mereka dari yang lainnya. Jadi dalam tahap reaksi tujuan melakukan pengontrolan terhadap pengubahan pikiran, perilaku, dan perasaan pengubahan secara langsung, dari aspek tersebut cocok dengan kasus ini.
Dan dari prinsip teknik ini pastinya mahasiswa yang prokratinasi memiliki tujuan dan melakukan pengontrolan dari setiap tingkah laku menuju tujuanya, sering mengevaluasi diri dari setiap langkah yang diambil dan membandingkan hasil yang lama dan baru. Itulah penjelasan saya yang InsyaAllah dengan teknik Self Menegement ini mampu mengatasi prokratinasi akademik mahasiswa.

Analisa Pobia Terhadap Belalang (UTS)

Analisa Pobia Terhadap Belalang (Dewasa)
Pobia sering dialami beberapa orang yang dalam masa lalunya pernah trauma, entah pernah mengalami kejadian seperti apa yang sehingga menghantui dan menakutkan ketika melihat hal itu lagi. Dan pobia terhadap belalang bukanlah hal yang baru, karena sebuah ketakutan tidak melihat dari segi apapun melainkan trauma terhadap kejadian masa lalu yang begitu mendalam.
Dan pobia belalang ini saya berfikir cocok dengan teknik Disensitiasi Sistematis, dimana teknik ini menghapus beberpa tingkah laku berlebihan terhadap sesuatu serta memunculkan respon dari pobia tersebut. Dan disensitiasi yang cocok menurut saya adalah disensitiasi in vivo, yang dalam hal ini pobia karena sebuah hewan wujud belalang yang menjadi kekakutan, dalam ini vivo ini mengakibatkan klien dalam situasi aktual yang hirarki, dengan pertama memberikan gambar belalang, apa dari responya, hingga terbiasa bahwa belalang itu tidak jahat/menakutkan, baru dengan media video, karena hirarki ini bisa melalu banyak media untuk mngurangi pobia terhadap belalang ini. Dengan membantu berfikir rasional belalang itu tidak dapat mematikan, dan konseli mengidentifikasi tingkah laku apa yang menimbulkan situasi emosi itu ada dari hirarki yang telah diberikan, dan kemudian melakukan penanggulangan respon dan terus latihan dengan hirarki dan penanggulan sampai terbiasa dan hilang akan rasa ketakutan pobia terhadap belalang, bagi saya insyaAllah teknik itu cocok dengan kasus ini.

Rabu, 22 Januari 2020

MAKALAH PSIKOANALITIK KONTEMPORER (Erix H. Erikson)

MAKALAH
PSIKOANALITIK KONTEMPORER (Erix H. Erikson)
Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Psikologi Kepribadian
Dosen Pengampu :
Indah Fajrotus Zahro, M. Psi


Disusun Oleh:
Ahmad Sururil Asna
Khoridah Nabila
Siti Ulfa
Rahayu Fika Lestari
Nunik Setiowati

PROGAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) ATTANWIR BOJONEGORO
Oktober, 2019
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdullilah senantiasa kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas berkah, rahmat, hidayah dan kesehatan dari-Nya, sehingga kita bisa menyelesaikan makalah ini. Dan tak lupa shalawat dan salam kita kirimkan untuk baginda Nabiyullah Muhammad Saw, Nabi yang telah membawa ummatnya dari zaman jahiliah ke zaman yang terang-benderang, juga nabi yang telah diutus oleh Allah SWT kemuka bumi ini sebagai rahmatan lilalamin.
Makalah ini kami buat dengan tujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah yakni Psikologi Kepribadian. Kami berharap dalam penyusunan makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Tentunya kami sadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saran dan kritik kami perlukan dalam hal yang bersifat membangun karena tidak dipungkiri bahwa makalah ini masih terdapat kesalahan dalam penyusunanya.


Bojonegoro, 23 Oktober  2019


Penyusun




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Masalah 2
BAB II
PEMBAHASAN
Psikoanalitik Kontemporer
  Struktur Kepribadian 3
 Dinamika Kepribadian 5
Perkembangan Kepribadian 5
Aplikasi 18
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan 19
Saran 19
DAFTAR PUSTAKA 20






BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk yang misteri, demikianlah yang diungkapkan oleh Alexis Carel ketika menggambarkan keridak tuntasan pencarian hakikat manusia oleh para ahli. Banyak ikhtiar akademis yang dilakukan oleh para ahli saat ingin memapar siapa sesungguhnya dirinya. Ilmu-ilmu seperti filsafat, ekonomi, sosiologi, antropologi, juga psikologi dan beberapa ilmu lainnyaadalah ilmu yang membahas tentang dengan perspektif masing-masing.
Manusia mempunyai keperluasan asas yang sama dan perkembangan mereka bergantung kepada tindak balas terhadap keperluan tersebut. Pertumbuhan manusia berjalan sesuai prinsip epigenetik yang menyatakan bahwa kepribadian manusia berjalan menurut delapan tahap. Berkembangnya manusia dari satu tahap ke tahap berikutnya ditentukan oleh keberhasilannya atau ketidakberhasilannya dalam menempuh tahap sebelumnya.
Erix Erison adalah salah satu diantara para ahli yang melakukan ikhtiar itu, dari perspektif psikologi, ia menguraikan manusia dari sudut perkembangannya sejak dari masa 0 tahun hingga usia lanjut. Erikson beraliran psikoanalisa dan pengembang teori Freud. Kelebihan yang kita temukan dari Erikson adalah bahwa ia mengurai seluruh siklus hidup manusia, tidak seperti Freud yang hanya sampai pada masa remaja. Termasuk disini adalah bahwa Erikson memasukkan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi perkembangan tahapan manusia, tidak hanya sekedar faktor libidinal sexual.
Namun disini kami akan membahas lebih lanjut ikhtiar yang dilakukan erix Erikson, agar kita mudah mempelajarinya kami akan mulai membahas dari struktur kepribadian, dinamika kepribadian, perkembangan kepribadian hingga cara mengaplikasikan teori ini.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana struktur kepribadian dalam psikoanalitik kontemporer?
Bagaimana dinamika kepribadian dalam psikoanalitik kontemporer?
Bagaimana perkembangan kepribadian dalam psikoanalitik kontemporer?
Bagaimana cara mengaplikasikan psikoanalitik kontemporer?
TUJUAN
Mengetahui struktur kepribadian dalam psikoanalitik kontemporer
Mengetahui dinamika kepribadian dalam psikoanalitik kontemporer
Mengetahui perkembangan kepribadian dalam psikoanalitik kontemporer
Mengetahui cara mengaplikasikan psikoanalitik kontemporer

















BAB II
PEMBAHASAN
PSIKOANALITIK KONTEMPORER (Erix H. Erikson)
Struktur Kepribadian
Ego kreatif
Erikson menggambarkan adanya sejumlah kualitas yang dimiliki ego, yang tidak ada pada psikoanalisis freud, yakni kepercayaan dan penghargaan, otonomi dan kemauan, kerajinan dan kompetensi, identitas dan kesetiaan, keakraban dan cinta, generativitas dan pemeliharaan, serta integritas. Ego semacam itu disebut ego-kreatif, dimana ego tersebut dapat menemukan pemecahan kreatif atas masalah baru pada setiap tahap kehidupan.
Menurut Erikson, ego sebagian bersifat tak sadar, mengorganisir dan mensintesa pengalaman sekarang dengan pengalaman diri masa lalu dan dengan diri masa yang akan dating.  Dia menemukan tiga aspek ego yang saling berhubungan, yakni body ego, ego ideal, dan ego identity.
Body ego: mengacu ke pengalaman orang dengan tubuh/fisiknya sendiri. Individu cenderung akan melihat fisiknya berbeda dengan fisik tubuh orang lain.
Ego ideal: suatu gambaran terkait dengan konsep diri yang sempurna. Individu cenderung akan berimajinasi untuk memiliki konsep ego yang lebih ideal disbanding dengan orang lain.
Ego identity: gambaran yang dimiliki individu terkait dengan diri yang melakukan peran sosial pada lingkungan tertentu.
Ketiga aspek tersebut umumnya berkembang sangat cepat pada masa dewasa, namun sesungguhnya perubahan ketiga elemen itu terjadi pada semua tahap kehidupan.
Ego Otonomi Fungsional
Ego otonomi fungsional adalah ego yang berfokus pada penyesuaian ego terhadap realita. Contohnya yaitu hubungan ibu dan anak. Meskipun Erikson sependapat dengan Freud mengenai hubungan ibu dan anak mampu memengaruhi serta menjadi hal terpenting dari perkembangan kepribadian anak, tetapi Erikson tidak membatasi teori-teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan id oleh ego. Erikson menganggap bahwa proses pemberian makanan pada bayi merupakan model interaksi sosial antara bayi dengan lingkungan sosialnya.
Lapar adalah manifestasi biologi, tetapi konsekuensi dari pemuasan id (oleh ibu) itu akan menimbulkan kesan bagi bayi tentang dunia luar. Dari pengalaman makannya, bayi belajar untuk mengantisipasi interaksinyadalam bentuk kepercayaan dasar (basic trust), yakni mereka memandang kontak dengan manusia sangat menyenangkan karena pada masa lalu hubungan semacam itu menimbulkan rasa aman dan menyenangkan. Sebaliknya, tanpa basic trust bayi akan mengantisipasi interaksi interpersonal dengan kecemasan, karena hubungan masa lalu dengan interpersonalnya menimbulkan frustasi dan rasa sakit.

Pengaruh Masyarakat
Pengaruh masyarakat adalah pembentuk bagian bagian terbesar ego, meskipun kapasitas yang dibawa sejak lahir oleh individu juga penting dalam perkembangan kepribadian. Erikson mengemukakan faktor yang memengaruhi kepribadian yang berbeda dengan Freud. Meskipun Freud menyatakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh biologikal, Erikson memandang kepribadian dipengaruhi oleh faktor sosial dan historikal. 
Erikson menyatakan bahwa potensi yang dimilki individu adalah ego yang muncul bersama kelahiran dan harus ditegakkan dalam lingkungan budaya. Anak yang diasuh dalam budaya masyarakat berbeda cenderung akan membentuk kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan budaya sendiri.
Dinamika kepribadian
Feist dan Feist menyatakan bahwa perwujudan dinamika kepribadian adalah hasil interaksi antara kebutuhan biologis yang mendasar dan pengungkapannya melalui tindakan-tindakan sosial. Hal ini berarti bahwa perkembangan kehidupan individu dari bayi hingga dewasa umumnya dipengaruhi oleh hasil interaksi sosial dengan individu lainnya sehingga membuat individu menjadi matang baik secara fisik maupun secara psikologis.
Perkembangan Kepribadian
Prinsip Epigenetik
Menurut Erikson, eko berkembang melalui baerbagai tahap kehidupan mengikuti prinsip epigenetic, istiliah yang dipinjam dari Embriologi. Perkembangan Epigenetik adalah perkembangan tahap demi tahap dari organ-organ Embrio. Ujud Embrio pada mulanya berbentuk bola kecil yang berkembang dalam irama dan urutan tertentu. Kalau mata, liver atau organ lain tidak berkembang pada periode kritik (periode yang disediakan alam untuk berkembang), organ itu tidak akan pernah mencapai kemasakan yang sempurna. 
Ego berkembang mengikuti prinsip epigenetic, artinya tiap bagian dari ego berkembang pada tahap perkembangan tertentu dalam rentangan waktu tertentu 9 yang disediakan oleh hereditas untuk berkembang). Tahap perkembengan yang satu terbentuk dan dikembangkan di atas perkembagan sebelumnya (tetapi tidak mengganti peerkembangan tahap sebelumnya itu). Ini analog dengan perkembangan fisik anak yang dimulai dari merangkak-duduk-berdiri-berjalan-berlari. Ketika bayi masih dalam tahap merangkak, mereka kemudian mengembangkan potensi untuk berjalan, berlari, meloncat, namun sesudah mereka mengusai kemampuan untuk meloncat, mereka tetap bisa merangkak dan berjalan. Erikson menjelaskan prinsip epigenetiknya sebagai berikut: semuanya yang berkembang mempunyai rencana dasar, dari perencanaan ini muncul bagian-bagian, masing-masing bagian mempunyai waktu khusus untuk menjadi pusat perkembangan, sampai semua bagian muncul untuk membentuk keseluruhan fungsi.
Aspek psikosesual 
Teori perkembangan dari erikson melengkapi dan menyempurnakan teori Freud dalam dua hal, pertama melengkapi tahapan perkembangan menjadi delapan tahap yakni, tahap bayi (infancy), anak (early childhood), bermain (play age), sekolah (school age) remaja (adolesence), dewasa awal (young adulthood), dewasa (adulthood), dan tua (mature). Freud hanya membahas 4 tahapan, dari bayi sampai dengan usia sekolah. Kedua, memakai analisis konflik untuk mendiskripsi perkembangan kepribadian. Perkembangan insting seksual (seksual infantil) dipakai freud untuk menjelaskan bahwa trauma (seksual) bisa dialami manusia pada usia dini dan bagaimana pengaruhnya pada masa yang akan datang. Erikson mengakui  adanya aspek psikosesual dalam perkembangan, yang menurutnya bisa berkembang positif (aktualisasi seksual yang diterima) atau negative ( aktualisasi ekspresi seksual yang tidak dikehendaki). Dia memutuskan perhatiannya kepada mendiskripsi bagaimana kapasitas kemausiaan mengatasi aspek psikosesual  itu; bagaimana mengembangkan insting seksual menjadi positif.
Konflik Psikososial
Teori Erikson sendiri memakai dasar perkembangan social; pada setiap tahap perkembangan muncul konflik social yang khas, yang seperti insting seksual, harus dikembangkan ke arah positif. Teori perkembangan dari Erikson kemudian dinamakan Teori Perkembangan Psikososial. Berikut enam pokok fikiran yang dipakai untuk memahami teori perkembangan psikososial Erikson:
Prinsip epigenetik:  perkembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetik. 
Interaksi bertentangan: di setiap tahap ada konflik psikososial, antara elemen sintonik (syntonic=harmonious) dan distonik (dystonic=disruptive). Kedua elemen itu dibutuhkan oleh kepribadian. Tugas perkembangan kepribadian bukan menghilanghkan distonik, tetapi membuat keseimbangan antara keduanya condong kearah sintonik. Hal itu cukup membantu untuk menenangkan konflik semacam yang timbul belakangan. Koflik antara positif dan negatif itu tetap ada sepanjang hayat, justru konflik itu yang membuat kepribadian menjadi hidup.
Kekuatan ego: konflik psikososial di setiap tahap hasilnya akan mempengaruhi atau mengembangkan ego. Dari sisi jenis sifat yang dikembangkan, kemenangan aspek sintonik akan memberi ego sifat yang baik, disebut virtue, dari sisi energi, virtue akan meningkatkan kuantitas ego atau kekuatan ego untuk mengatasi konflik sejenis, sehingga virtue disebut juga sebagai kekuatan dasar (basic strength).
Aspek somatic: walaupun Erikson membagi tahapan berdasarkan perkembangan psikososial, dia tidak melupakan aspek somatis/biologikal dari perkembangan manusia.
Konflik dan peristiwa pancaragam (multiplicity of conflict and event): peristiwa pada awal perkembangan tidak berdampak langsung pada perkembangan kepribadian selanjutnya. Identiras ego dibentuk oleh konflik dan peristiwa masa lalu, kini, dan masa yang akan datang Neurosis tidak disebabkan oleh peristiwa pada tahap oral, tetapi penyebabnya pancaragam, meliputi peristiwa masa lalu, kini, dan masa yang akan datang.
Di setiap tahap perkembangan, khususnya dari masa adolesen dan sesudahnya, perkembangan kepribadian ditandai oleh krisis identitas (identity crisis), yang dinamakan Erikson “titik balik, periode peningkatan bahaya dan memuncaknya potensi.”selama masa krisis, banyak terjadi perubahan penting identitas ego, bisa positif atau negatif. Berbeda dengan pemakaian umum, krisis identitas itu bukan peristiwa bencana yang mengerikan, tetapi lebih sebagai peluang untuk menjadi lebih bisa meneyesuaikan diri atau menjadi salah suai.
Ritualisasi versus Ritualisme
Teori Erikson dinamakan teori perkembangan social, Karena teori ini menekankan pentingnya interaksi dalam pengembangan kepribadian. Pada setiap tahap perkembangan orang berinteraksi dengan pola-pola tetentu, disebut ritualisasi (ritualization). Dengan adanya ritualisasi ini orang menjadi terdorong untuk berkomunikasi sekaligus mengembangkan kepribadiannya. Pengertian ritualisasi dapat disingkat sebagai berikut:
Ritualisasi adalah pola-kultural berinteraksi dengan orang dan obyek lainnya, yang membuat interaksi menjadi menyenangkan (playful).
Ritualisasi adalah kesepakatan saling hubungan antara dua orang (atau lebih) yang terus menerus berlangsung dan mempunyai nilai adaptif (dapat dipakai dalam berbagai kesempatan).
Ritualisasi membuat individu dapat bertingkah laku secara efektif dan tidak canggung di masyarakat.
Ritualisasi memasukkan orang kedalam masyarakat dengan mengajarkan kepada mereka memuaskan keinginan memakai cara-cara yang dapat diterima budaya.
Seperti pada konflik psikososial, pola hubungan social bisa positif menjadi ritualisasi, sebaliknya bisa negative menjadi ritualism. Ketika perkembangan maju ke tahap berikutnya, akan muncul ritualisasi baru dan ritualism baru. Ritualisasi dan ritualism yang lama (dari perkembangan yang terdahulu), tidak hilang. Keduanya bersama-sama dengan kekuatan dasar yang diperoleh dari konflik psikososial akan menjadi bagian dari keyakinan, latar belakang, dan pola tingkah laku yang tidak mudah berubah  pada masa yang akan datang.
Ritualisme adalah pola hubungan yang tidak menyenangkan kedua belah pihak, karena salah satu menduduki posisi yang lebih superior, dan yang lain inferior. Ciri-ciri ritualisme adalah sebagai berikut:
Perhatian orang dalam ritualisme terfokus pada dirinya sendiri. Orang menjadi lebih peduli dengan performansi dirinya daripada mempedulikan hubungannya dengan orang lain atau dengan apa yang mereka lakukan.
Sifatnya tidak menyenangkan, tetapi compulsive (terpaksa dilakukan). Ritualisme juga terpola secara kultural, menjadi tingkah laku yang menyimpang, abnormal, dan aneh.
Ritualisme sering melibatkan orang lain, dalam kedudukan untuk dipungkiri keberadaanya. Orang yang di dominasi oleh ritualisme tidak dapat berinteraksi dengan orang lain dalam cara saling mendapat kepuasan.
Fase Bayi (0-1 tahun)
Paralel dengan Fase Oral daei freud, namun bagi Erikson kegiatan bayi tidak terikat dengan mulut semata; bayi adalah saat untuk memasukkan (incorporation), bukan hanya melalui mulut (menelan) tetapi juga semua indera.
Aspek Psikoseksual: Sensori Oral
Tahap sensori di tandai oleh dua jenis inkorporasi: mendapat dan menerima. Mendapat (receiving) adalah memperoleh sesuatu tanpa ada yang memberi, bernafas atau melihat obyek berarti menerima stimulus tanpa kehadiran orang lain. Menerima (accepting) adalah memperoleh sesuatu melalui konteks social, bayi menerima sesuatu dari orang lain. Ini menjadi perlajaran hubungan antar pribadi, belajar memberi d menerima.
Krisis Psikoseksual: kepercayaan versus kecurigaan
Tahun pertama kehidupannya, bayi memakai sebagian besar waktunya untuk makan, eliminasi (buang kotoran) dan tidur. Ketika ia menyadari ibu akan memberi makan/minum secara teratur, mereka belajar dan memperoleh kualitas ego atau identitas ego yang pertama, perasaan kepercayaan dasar (basic trust). Perlakuan yang lembut ayunan dan irama ninabobok, dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya, membuat bayi menghadapi tugas keidupan dengan santai dan tenang, kepercayaan dasar berkembang singkat kata, jika pola untuk inkorporasi sesuai dengan perlakuan lingkungan kulturalnya, anak akan mengembangkan kepercayaan dasar (sintonik). Sebaliknya kalau tidak ada kesesuaian antara kebutuhan sensori-oral dengan lingkungan, mereka akan mengembangkan ketidak percayaan dasar (distonik).
Virtue: Harapan
Konflik antara kepercayaan dan ketidak percayaan memunculkan harapan (hope). Tanpa berhubungan bertentangan antara percaya dan tidak percaya, orang tidak dapat mengembangkan virtue harapan. Bayi harus mengalami lapar, haus, nyeri, ketidaknyamanan yang lain, dan kemudian mengalami perbaikan dan hilangnya kondisi yang tidak menyenangkan itu. Dari peristiwa itu bayi akan belajar mengaharap bahwa hal yang meyakitkan ke depan bisa berubah menjadi menyenangkan. Kebaikan dari hope adalah menarik diri (withdrawal), yang disebut Erikson sebagai sumber patologis dari bayi. Bayi dengan harapan yang kecil, akan menarik diri dari dunia luar dan mulai mengalami gangguan pssikologis serius.
Ritualisasi-ritualisme: keramat Versus Pemujaan
Bayi menangkap hubungannya dengan ibu sebagai sesuatu yang keramat (numinous). Suara ibu, belaian ibu, air susu ibu, semuanya ibarat dewi penolong yang membuatnya menjadi puas dan aman. Pola interaksi numinous membuat bayi sangat menghargai ibunya, dan mudah diatur sehingga dapat mendukung tugas perkembangannya. Numinous akhirnya akan menjadi dasar bagaimana orang menghadapi/berkomunikasi dengan orang lain, dengan penuh penerimaan, penghargaan, tanpa ada acaman.
Fase Anak-anak (1-3 tahun)
Tahap ini paralel  dengan fase anak dari freud. Menurut freud anak mula-mula memperoleh kepuasan dengan dengan menghancurkan atau membuang/ menghilangkan obyek (awal sifat sadistik), dan kemudian anak memeproleh kepuasan dari defakasi. Teori Erikson lebih luas; anak memperoleh kepuasan bukan dari keberhasilan mengotrol anus-anus saja, etapi juga dari keberhasilan mengontrol fungsi tubuh yang lain, seperti urinasi, berjalan, melempar, memegang, dan sebagainya. Kesemuanya itu dikembangkan melaui hubungan interpersonal, sehingga anak juga mengalami ragu ragu dan malu, beljar bahwa usahanya untuk menjadi otonom bisa berhasil bisa juga gagal.
Aspek Psikoseksual: Otot Anal-uretal
Pada tahun kedua, penyesuaian psikoseksual terpusat pada. Anal-uteral (Anal-Urethral Muscural); anak belajar mengntrol tubuhnya, khususnya yang berhubugan dengan kebersihan. Namun menurut Erikson, masa anak di samping toilet training, juga masa belajar berjalan, lari, memeluk orang tuanya, dan memegang mainan atau obyek lainnya. Aktivitas tahap ini mengandung kontradiksi, antara menahan kotorannnya atau melakukan defakasi secara sengaja, memeluk ibunya atau menolak dan menjauhkan ibu darinya, memegang erat obyek atau membuang dengan kasar. Pada tahap ini anak belajar untuk menjadi cenderug keras kepala dan rela/lembut, menjadi implusif dan komplusif, menjadi senang bekerjasama dan benci. 
Krisis Psikososial: Otonomi versus Malu dan Ragu
Pada tahap ini anak dihadapkan dengan budaya yang menghambat ekspresi diri. Anak brlajar mengenal hak dan kewajiban serta pembatasan-pembatasan tingkah laku, belajar mengontrol diri sendiri dan menerima kontrol dari orang lain.berangsur-angsur keberhasilan mengontrol tubuh menimbulkan perasaan otonomi-bangga, dan kegagalan menimbulkan rasa malu-ragu. Perasaan otonomi dan malu ini di pakai orang tua untuk mendidik anak.
Virtue: kemauan
Hasil mengatasi krisis otonomi versus malu-ragu adalah kekuatan dasar kemauan. Ini adalah permulaan dari kebebasan kemauan dan kekuatan kemauan (benar-benar hanya permulaan), yang menjadi dasar dari ujud virtue kemauan di dalam egonya. Kemasakan kekuatan kemauan dan kebebasan kemauan yang terukur baru di peroleh pada perkembangan-perkembngan berikutnya. Siapa saja yang mrmperhatikan anak berusia dua tahunan akan tahu bagaimana kemauan itu timbul. 
Dasar-dasar kemauan dapat muncul hanya kalau anak diizinkan melatih mengontrol sendiri otot-ototnya (otot anal, uretal, dan otot lainya).
Ritualisasi-ritualisme: Bijaksana Versus Legaisme
Pada tahap ini pola komunikasi mengembangkan penilaian benar atau salah dari tingkah laku diri dan orang lain, di sebut bijaksana (judicious). Peilaian yang adil, tidak memihak, tidak mementingkan diri sendiri dan orang lain, dan lebih mementingkan tanggug jawab moral, dipakai untuk membsngun interaksi yang memuaskan fihak yang terkait dengan interaksi itu.  Judicious memperoleh kepuasan dari interaksi yang moralistic.
Usia Bermain (3-6 Tahun)
Tahap ini sama dengan periode Falis dan Freud, namun isi kegiatan atau proses perkembangan didalamnya antara Frerud dengan Erikson berbeda. Freud memakai tema sentral odipus komplikasi, sedang menurut Erikson, ada banyak perkembangan penting pada fase bermain ini, yakni; identifikasi dengan orang tua (odipus kompleks), mengembangnkan gerakan tubuh, keterampilan bahasa, rasa ingin tahu, imajnasi, dan kemampuan menetukan tujuan.
Aspek Psikoseksual: Perkelaminan-Gerakan
Erikson mengakui gejala odipus muncul sebagai dampak dari fase psikoseksual genital-locomotor, namun odipus itu diberi makna yang berbeda. Menurutnya, stuasi odipus adalah prototip dari kekuatan yang abadi dari kebahagiaan manusia. Odipus kompleks adalah drama yng dimainkan dalam imajinaspi anak, yang tujuan utamanya adalah, memahami berbagai konsep dasar seperti reproduksi, pertumbuhan, masa depan, dan kemtian. Bentuk odipus tidak selalu sama.
Konflik Psikososial: Inisiatif versus Perasaan Berdosa
Ketika anak bisa bergerak berkeliling dengan mudah dan bersemangat, dan minat seksualnya muncul, mereka memakai berbagai cara untuk memahami lingkungannya. Inisiatif dipakainya utuk memilih dan mengejar berbagai tujuan, seperti kaqwin dengan ibu/ayah, atau meninggalkan rumah, juga untuk menekan atau menunda suatu tujuan. Tujuan yang harus di hambat akan menimbulkan rasa berdosa (gulit).
Kekangan (inhibition) adalah lawan dari tujuan (purpose), menjadi sumber pastologikdari usia bermain.

Virtue: Tujuan-sengaja
Konflik antara inisiatif dengan berdosa menghasilkan kekuatan dasar (virtue) puspose. Anak kini bermain dengan tujuan, terutama permainan kompetisi dan mengajar kemenangan. 
Ritualisasi-ritualisme: Dramatik versus Impersonasi
Tahap ini dipenuhi den fantasi anak, menjadi ayah, ibu, menjadi karakter baik untuk mengalahkan penjhat. Mereka berinteraksi dengan memakai fantasinya, disebut dramtik (dramatic). Daramtik mendorong orang orang untuk berinteraksi sesuai dengan peran yang diharapkan masyarakat tanpa menimbulkan perasaan berdosa dalam dirinya sendiri.kalau permainan peran itu menjadi kompulsi, orang tidak mejadi dirinya sendiri tetapi hanya memainkan peran-peran sesuai dengan fantasinya akan timbul interaksi yang menyimpang disebut impersonasi (impersonalisation).  Keterlibatan ego-sadar dalam interaksi cenderung kurang, diganti oleh fantasi-taksadar tentang dirinya.
Usia Sekolah (6-12 tahun)
Pada usia ini dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul dengan teman sebaya, guru, dan orang dewasa lainnya. Melalui interaksi sosial yang terjadi, sang anak mulai bisa mengembangkan perasaan bangga terhadap keberhasilam dan kemampuan mereka. Anak yang didukung dan melalui pengarahan orang tua serta guru akan membangun keinginan berkompetis yang juga berpengaruh pada kepercayaan dirinya. Pada usia ini, keingintahuannya menjadi sangat kuat dan hal itu berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence).
Namun, bila sang anak tidak mendapatkan dukungan dari orang tua, guru, atau teman sebaya akan memunculkan perasaan ragu akan ketrampilan yang dimilikinya. Masa pertengahan dan akhir kanak-kanak akan membentuk dan mengarahkan energi mereka menuju penguasan pengetahuan dan ketrampilan intelektual. Dalam tahapan ini, guru mengambil peranan yang penting karena berkaitan dengan pengetahuan.
Aspek Psikoseksual: Terpendam (laten)
Erikson setuju dengam Freud bahwa usia sekolah adalah tahap latency. Memendam insting seksual sangat penting karena akan membuat anak dapat memakai energinya untuk mempelajari teknologi dari budayanya, dan mempelajari strategi interaksi sosialnya. Ketika anak mempelajari akan dua hal itu, mereka mulai membentuk gambaran tentang diri sendiri, sebagai berkemampuan atau tidak berkemampuan (competence-uncompetence). Gambaran ini menjadi asal-muasal identitas ego perasaan “aku” atau “keakuan” yang akan berkembang masak pada usia adolesen.
Krisis Psikososial: Ketekunan vs inferiorita (rasa rendah diri)
Pada tahap laten perkembangan seksual terpendam dan perkembangan sosial menjadi luar biasa. Krisis psikososial pada tahap ini adalah antara ketekunan dan rasa rendah diri. 
Jika anak mengerjakan tugasnya dengan sebaik-baiknya, berarti mereka mengembangkan perasaan ketekunan, tetapi jika mereka merasa bahwa tugasnya tersebut tidak bisa untuk mencapai tujuan, mereka akan mendapat perasaan rendah diri. 
Virtue: Kompetensi
Dari konflik antara ketekunan dengan inferiorita, anak mengembangkan kekuatan dasar: kemampuan (competency). Virtue itu diperoleh melalui latihan kecakapan gerak dan kecerdasan untuk menyelesaikan tugas. Anak membutuhkan perintah dan metode, tetapi yang lebih penting adalah pemanfaatan kecerdasan dan pemanfatan energi fisik yang berlimpah untuk melaksanakan kegiatan sekolah, tugas di rumah, seni, olahraga ketrampilan, menjamin tidak berkembangnya perasaan kurang mampu disbanding orang lain. 
Kalau perjuangan tahap usia sekolah cenderung memenangkan inferiority atau sebaliknya, ketekunan menang secara berlebihan (tanpa inferioriti), anak menjadi mudah menyerah dan regresi ke tahap perkembangan sebelumnya. Mereka mungkin menjadi sibuk dengan fantasi genital anak-anak dan odipus, dan menghabiskan waktunya untuk bermain yang tidak produktif. Regresi semacam ini disebut inersia (inertia) atau kemalasan yang sangat. Inersia adalah kebalikan dari kompetensi dan menjadi sumber patologi pada usia sekolah.
Ritualisasi-ritualisme: Formal versus Formalisme
Lingkungan sosial yang luas memaksa anak untuk mengembangkan teknik atau metode bagaimana berinteraksi secara efektif. Di sekolah, anak juga banyak belajar tentang sistem, aturan, metode, yang membuat suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan efektif dan efisien. Itulah ritualisasi formal; interaksi yang mementingkan metode atau cara yang tepat, untuk memperoleh hasil yang sempurna.


Adolesen (12-20 tahun)
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting diantara tahap perkembangan lainnya, karena pada akhir tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego yang cukup baik. Walaupun pencarian identitas ego itu tidak dimulai dan tidak berakhir pada usia remaja (pencarian identitas ego ada sejak tahap bayi sampai tahap tua).
Krisis antara identitas dengan kekacauan identitas mencapai puncaknya pada tahap adolesen ini. Dari krisis itu akan muncul kesetiaan sebagai virtue dari adolesen.
Aspek Psikoseksual: Pubertas
Perkembangan psikoseksual  pubertas (puberty), adalah tahap kemasakan seksual. Bagi Erikson, pubertas penting bukan karena kemasakan seksual, tetapi karena pubertas memacu harapan peran dewasa pada masa yang akan dating. Peran yang sangat penting secara sosial itu hanya dapat dipenuhi melalui perjuangan mencapai identitas ego pada tahap pubertas.
Krisis Psikoseksual: Identitas dan Kekacauan Identitas
Pencarian identitas ego mencapai puncaknyapada fase adolesen, ketika remaja berjuang untuk menemukan siapa dirinya. Menurut Erikson identitas muncul dari dua sumber: pertama, penegasan atau penghapusan identifikasi pada masa kanak-kanak, dan kedua sejarah yang berkaitan dengan kesediaan menerima standar tertentu. Remaja sering menolak standar orang yang lebih tua dan memilih nilai-nilai kelompok (gang).
Identitas bisa positif bisa negatif. Identitas positif adalah keputusan mengenai akan menjadi apa mereka dan apa yang mereka yakini. Kebalikannya, identitas negatif adalah apa yang mereka tidak ingin menjadi seperti itu dan apa yang mereka tolak untuk mempercayainya. Seiring adolesen harus menolak nilai-nilai orang tua tetapi juga tidak mengakui nilai-nilai kelompok sebaya, suatu dilema yang akan memperkuat kekacauan identitas.
Kekacauan identitas adalah sindrom masalah-masalah yang meliputi, terbaginya gambaran diri, ketidakmampuan membina persahabatan yang akrab, kurang memahami pentingnya waktu, tidak bisa konsentrasi pada tugas yang memerlukan hal itu, dan menolak standar keluarga atau standar masyarakat.
Keseimbangan antara identitas dan kekacauan identitas yang cenderung positif ke identitas, akan menghasilkan:
Kesetiaan terhadap prinsip idiologi tertentu
Kemampuan untuk memutuskan secara bebas apa yang akan dilakukan
Kepercayaan kepada teman sebaya dan orang dewasa yang member nasihat mengenai tujuan dan cita-cita
Pilihan pekerjaan
Virtue: kesetiaan
Kekuatan dasar yang muncul dari krisis identitas pada tahap adolesen adalah kesetiaan (fidelity) yaitu setia dalam beberapa pandangan idiologi atau visi masa depan.
Sisi patologis dari kesetiaan adalah penolakan (repudiation), atau ketidakmampuan menggabungkanberbagai gambaran diri dan nilai-nilai ke dalam identitas, menjadi bentuk malu-malu (diffidence) atau penyimpangan (deviance). Difiden adalah keadaan ekstrim tidak percaya diri yang diekspresikan sebagai malu-malu untuk mengekspresikanm diri. Sebaliknya, devian adalah memberontak kepada otoritas secara terbuka.

Ritualisasi-ritualisme: ediologi vs totalisme
Ritualisasi ediologi adalah gabungan dari ritualisasi-ritualisasi tahap sebelumnya menjadi keyakinan atai ide-ide. Ritualisasi ediologi menjadi awal dari kesiapan diri mengadopsi etika masyarakat, memilih gaya hidup yang sesuai dengan dirinya dan menolak ediologi yang tidak dikehendaki atau ediologi asing.
 
Dewasa Awal (20-30 tahun)
Pengalaman adolesen dalam mencari identitas dibutuhkan oleh dewasa-awal. Selama tahap adolesen orang harus memperoleh pemahaman yang mantap tentang diri mereka sendiri, untuk dapat menyatukan identitas diri mereka dengan identitas orang lain, tugas yang harus dikerjakan pada tahap dewasa awal. Hanya sesudah orang mengembangkan perasaan yang mantap siapa dirinya dan apa yang diinginkannya maka mereka dapat mengembangkan tingkat kebaikan cinta (love), kesetiaan timbale balik yang mengalahkan perbedaan yang tak terelakan antara dua orang yang berbeda kepribadian, pengalaman, dan perannya. 
Aspek Psikoseksual: Perkelaminan
Perkembanganm psikoseksual tahap ini disebut perkelaminan (genitality). Mulai tahap ini sampai tahap tua, deskripsi perkembangan psikoseksual murni konsep Erikson, karena teori Freud hanya menjelaskan perkembangan sampai adolesen. Aktivitas seksual selama tahap adolesen adalah ekspresi pencarian identitas yang biasanya dipuaskan sendiri. Perkelaminan sebenarnya baru dikembangkan pada tahap dewasa awal, ditandai dengan saling percaya dan berbagi kepuasan seksual secara permanen dengan orang yang dicintai.

Krisis psikososial: Keakraban vs Isolasi
Keakraban (intimacy) adalah kemampuan untuk menyatukan identitas diri dengan identitas oirang lain tanpa ketakutan kehilangan identitas itu.
Isolasi adalah ketidakmampuan untuk bekerja sama dengan orang lain melalui berbagai intimasi yang sebenarnya.
Virtue: cinta
Cinta adalah kesetiaan yang masak sebagai dampak dari perbedaan dasar antara pria dan wanita. 
Kebalikan dari cinta adalah kesendirian (exclusivity), sumber patologi dewasa awal.
Ritualisasi-ritualisme: Afiliasi vs elitism
Refleksi dari kenyataan adanya cinta, mempertahankan persahabatan, ikatan kerja. Afiliasi mendorong orang untuk berbagi dengan yang lain. Misalnya, perkawinan, libur bersama, dan permainan dalam satu tim.
Elitism memandang orang luar dengan penuh curiga, merendahkan. 


Dewasa (30-36 tahun)
Tahap dewasa adalah waktu menempatkan diri di masyarakat dan ikut bertanggung jawab terhadap apapun yang dihasilkan dari masyarakat. 
Aspek Psikoseksual: Prokreativita
Menurut Erikson, manusia mempunyai insting untuk mempertahankan jenisnya. Insting itu disebut prokreativita, yang mencakup kontak seksual dengan partner intimasi, dan tanggung jawab untuk merawat anak keturunan hasil kontak sek itu.
Krisis Psikososial: Generativita (bangkit) vs Stagnasi (berhenti)
Generativita  yaitu penurunan kehidupan baru serta produk dan ide baru.
Antithesis dari generativita adalah stagnasi.
Virtue: kepedulian
Kepedulian (care) adalah perluasan komitmen untuk merawat orang atau merawat produk dan ide yang membutuhkan perhatian.
Ritualisasi-ritualisme: generasional vs otoritisme
Ritualisasi generasional merupakan interaksi antara orang dewasa dengan generasi penerusnya. Misalnya, sebagai orang tua, guru,  anggota masyarakat yang meneruskan niali-nilai etik/budaya.
Ritualisasi otoritisme mengandung pemaksaan.
 

Usia Tua (>65 tahun)
Menjadi tua bukan berarti menjadi tidak generative. Sudah tidak menghasilkan keturunan, tetapi masih produktif dan kreatif dalam hal lain, misalnya memberi perhatian/merawat generasi penerus cucu dan remaja pada umumnya. Usia tua bisa menjadi waktu yang orang senang bermain dan menyenangkan, tetapi juga bisa menjadi orang depresi dan putus asa. 
a. Aspek psikososial: generalisasi sensualitas
memperoleh kenikmatan dari berbagai sensasi fisik, penglihatan, pendengaran, kecapan, bau, pelukan, dan bisa juga stimulasi genital.

b. Krisis psikososial: integritas vs putus asa
Integritas adalah perasaan menyatu dan utuh, kemampuan untuk menyatukan perasaan keakuan dan mengurangi kekuatan fisik dan intelektual.
Integritas ego sering sukar dipertahankan ketika orang telah kehilangan pasangan atau sahabat (meninggal).
Putus asa berarti tanpa harapan. 
c. Virtue: kebijaksanaan (wisdom)
Orang dengan kebijaksanaan yang matang, tetap mempertahankan integritasnya ketika kemampuan fisik dan mentalnya menurun. 
Antitesis dari kebijaksanaan adalah penghinaan (disdain) merupakan reaksi terhadap perasaan terkalahkan, bingung dan tak tertolong yang semakin tinggi.
d. Ritualisasi-ritualisme: integral vs sapentisme
Integral merupakan ungkapan kebijaksanaan dan pemahaman makna kehidupan
Sapentisme merupakan bergaya bijaksana, memberi petuah-petuah dogmatis untuk menyembunyikan diri bahwa dirinya  tidak memiliki sifat bijak, mungkin juga menyembunyikan perasaan putus asa.
Aplikasi 
Teori Erikson terfokus pada perkembangan sosial, sehingga aplikasinya terutama dibidang pendidikan sosial, khususnya pada usia anak-anak dan remaja. Memperhatikan teori Erikson akan berdampak kepada perlakuan orang dewasa kepada anak lebih sesuai dengan kebutuhan usia anak-anak itu.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Erikson member jiwa baru ke dalam teori psikoanalisis, dengan memberi perhatian yang lebih kepada ego dari pada id dan super ego. Dia masih tetap menghargai teori Freud, namun mengembangkan ide-ide khususnya dalam hubungannya dengan tahap perkembangan dan peran sosial terhadap pembentukan ego.
Ego berkembang melalui respon terhadap kekuatan dalam dan kekuatan lingkungan sosial. Ego bersifat adaptif dan kreatif, berjuang aktif (otonomi) membantu diri menangani dunianya. Erikson masih mengakui adanya kualitas dan inisiatif sebagai bentuk dasar pada tahap awal, namun hal itu hanya bisa berkembang dan masak melalui pengalaman sosial dan lingkungan.
Menurutnya ego memiliki sifat adaptif, kreatif, dan otonom. Dia menganggap lingkungan bukan semata-mata menghambat dan menghukum (Freud), tetapi juga mendorong dan membantu individu. Ego menjadi mampu terkadang dengan sedikit bantuan dari terapis menangani masalah secara efektif.
SARAN
Sebagai manusia makhluk sosial, kita sangat butuh bantuan dan juga keterkaitan antara orang lain, maka jadilah manusia yang mampu memberi manfaat dan mampu menjadi pengaruh besar dalam peradaban, makalah ini disusun dengan penuh hati-hati dan teliti, namun kami masih menyadari masih banyak kekurangan dan untuk kebaikan silahkan saran dan tanggapannya.



DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2016. Psikologi Kepribadian. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang
Lestari, Mutiara Anggita, Erik H. Erikson-Post Freudian Theory, http://scdc.binus.ac.id/himpsiko/2017/12/1086/, pada tanggal 21 oktober 2019
Silaban, Fernanado Firman, 8 Tahap Yang Membentuk Kepribadian Manusia Menurut Ahi, http://m.liputan6.com/lifestyle/read/2547389/8-tahap-yang-membentuk-kepribadian-manusia-menurut-ahli, pada tanggal 23 oktober 2019 


Selasa, 21 Januari 2020

Teori Analitik Carl Gustav Jung

MAKALAH
PSIKOLOGI ANALITIK CARL GUSTAV JUNG
Makalah ini disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Kepribadian
Dosen Pengampu : Indah Fajrotuz Zahro, M.Psi




Oleh 
Kelompok 1 :
Ahmad Muhaimin
M. Afrizal Virmansyah
Nur Maulida Fitria
Vina Qorib Billa







BIMBINGAN KONSELING ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ATTANWIR
TALUN SUMBERREJO BOJONEGORO
2019

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur atas izin Allah SWT akhirnya penulis mampu menyusun dan menyelesaikan makalah ini sebagai bentuk tanggung jawab penulis terhadap tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah “Psikologi Kepribadian”. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Rasulullah SAW beserta Keluarga, Sahabat dan Seluruh Pengikut Beliau hingga akhir zaman nanti. Allahumma Aaminn
Dalam kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada :
Allah Yang Maha Esa, karena dengan ramat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Indah Fajrotuz Zahro, M.psi, selaku Dosen Mata Kuliah “Psikologi Kepribadian ” yang telah membimbing penulis dalam menyusun  tugas makalah ini.
Teman-teman yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini.
Penulis menyadari makalah yang berjudul “Psikologi Analitik Carl Gustav Jung” ini masih jauh dari kesempurnaan, karena terbatasnya ilmu dan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi penyempurnaan hasil makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca.



Bojonegoro, 06 September 2019
penulis








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I : PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Pembahasan 3
BAB II PEMBAHASAN
Teori Kepribadian Psikologi Analitis 4
Struktur Kepribadian 8
Tipologi Jung 10
Interaksi di Antara Sistem-Sistem Kepribadian 12
Dinamika Kepribadian 12
Perkembangan Kepribadian 15
Kritik Terhadap Pendekatan Jung 17
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 19
Saran. 20
DAFTAR PUSTAKA














BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Carl Gustav Jung lahir pada tanggal 26 juli 1875 di Kesswil dan meninggal pada tanggal 6 juni 1961. Tahun 1906 ia mulai tulis menulis surat dengan Freud hingga tahun 1913. Tahun1907 pertemuan pertama dengan Freud yang terjadi di Wina membuat tali persaudaraan antara mereka. Freud begitu menaruh kepercayaan pada Jung, sehingga Jung dianggap sebagai orang yang patut menggantikan Freud di kemudian hari.
Jung terkenal dengan pengetahuannya tentang smbolisme dalam tradisi mistik, seperti Gnostisme, Alkemi, Kabala dan tradsi-tradisi serupa dalam agama Hindu dan Buddha. Ia adalah orang yang bisa mengetahui sisi alam bawah sadar yang memperlihatkan diri dalam wujud-wujud simbolik.
Berbeda dengan teori Freud tentang kepribadan yang bersifat mekanitis dan berdasar ilmu alam, konsep analitis Jung mengenai kepribadian menunjukkan usahanya untuk menginterpretasikan tingkah laku manusia dari sudut filsfat, agama dan mistik.
Sebagai penulis, Jung sangat produktif. Tulisannya banyak dan bidang orientasinya luas, sedang pendapatnya selalu berkembang. Oleh karena itulah maka teori Jung sebagai kesatuan tidak mudah dipahami. Bila disederhanakan, teori tersebut dapat dimengerti dalam rangka struktur, dinamika, serta perkembangan kepribadian (psyche). 
Rumusan Masalah 
Apa itu teori kepribadian psikologi analitis? 
Apa saja struktur kepribadian itu? 
Meliputi apa saja dinamika kepribadian itu? 
Bagaimana perkembangan kepribadian itu? 

Tujuan
Mengetahui teori kepribadian psikologi analitis
Mengetahui apa saja struktur kepribadian itu
Mengetahui apa saja dinamika kepribadian
Mengetahui perkembangan kepribadian










BAB II
PEMBAHASAN

Teori Kepribadian Psikologi Analitis
Teori kepribadian dengan pendekatan psikologi analitis dikembangkan oleh Carl Gustav Jung. Beliau diakui sebagai salah satu ahli psikologi yang terkemuka abad XX. Selama 60 tahun, ia mengabdikan dirinya dengan penuh kesungguhan untuk menganalisis proses kepribadian manusia yang sangat luas dan dalam. Dalam memandang manusia, Jung menggabungkan pandangan teleologi dan kasualitas. Dia memandang bahwa tingkah laku manusia itu ditentukan tidak hanya oleh sejarah individu rasi (kausalitas), tetapi juga oleh tujuan dan aspirasi individu (teleologi). Menurut Jung, masa lampau individu sebagai akualitas maupun masa depan individu sebagai potensialitas sama-sama membimbing tingkah laku individu (orang).
Pandangan Jung tentang kepribadian adalah prospektif dan retrospektif. Prospektif dalam arti bahwa ia melihat kepribadian itu ke masa depan ke arah garis perkembangan sang pribadi di masa depan dan restrospektif dalam arti bahwa ia memperhatikan masa lampau sang pribadi. Freud memandang kehidupan sebagai usaha memusnahkan atau menekan kebutuhan insting yang terus menerus timbul, sedang Jung memandang kehidupan sebagai perkembangan yang kreatif. Sehingga Jung mengemukakan teori kepribadian yang bersifat facial atau phylogenic. (Filogeni: evolusi genetika yang berkait dengan sekelompok makhluk hidup. Asal mula kepribadian secara filogeni berada di keturunan,  melalui jejak ingatan dari pengalaman masa lalu ras manusia). Dasar kepribadian bersifat archaic, primitive, innate, unconscius, dan universal. Arsetip (Archetype) seperti personal, earth mother, child, wise old man, dan anima. semuanya menjadi predisposi bagaimana orang menerima dan merespon dunia. 

Struktur Kepribadian
            Kepribadian atau psyche adalah mencakup keseluruhan pikiran, perasaan dan tingkah laku, kesadaran,dan ketidaksadaran. kepribadian membimbing orang untuk untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Sejak awal kehidupan, kepribadian adalah kesatuan atau berpotensi membentuk kesatuan. ketika mengembangkan kepribadian, orang harus berusaha mempertahankan kesatuan dan harmoni antar semua elemen kepribadian.
Kepribadian di susun oleh sejumlah sistem yang beroprasi dalam tiga tingkat kesadaran; ego beroperasi pada tingkat sadar, kompleks beroperasi pada tingkat sadar pribadi, dan arsetif beroperasi pada tingkat tak sadar kolektif. Di samping sistem yang terikat dengan daerah operasinya masing-masing, terdapat sikap (introvers-ekstravers) dan fungsi (fikiran-perasaan-persepsi-intuisi) yang beroperasi pada semua tingkat kesadaran. Juga ada self yang menjadi pusat kepribadian. 

Kesadaran (consciousness) dan Ego
Kesadaran (consciousness) muncul pada awal kehidupan, bahkan mungkin sebelum di lahirkan. Secara berangsur kesadaran bayi yang umum-kasar, menjadi semakin spesifik ketika bayi itu mulai mengenal manusia dan obyek sekitarnya. Menurut Jung, hasil pertama dari proses diferensiasi kesadaran itu adalah ego. Sebagai organisasi kesadaran, ego berperan penting dalam menentukan persepsifikiran, perasaan dan ingatan yang bisa masuk kesadaran. Tanpa seleksi ego, jiwa manusia bisa menjadi kacau karena terbanjiri oleh pengalaman yang semua bebas masuk ke kesadaran. Dengan menyaring pengalaman, ego berusaha memelihara keutuhan dalam kepribadian dan memberi orang perasaan kontinuitas dan identitas.
Taksadar Pribadi (personal unconscious) dan kompleks (complexes) 
Ketidaksadaran pribadi adalah daerah yang berdekatan dengan ego. Ketidaksadaran pribadi terdiri dari pengalaman-pengalaman yang pernah sadar tetapi kemudian di represikan, disupresikan, di lupakan atau di abaikan serta pengalaman-pengalaman yang terlalu lemah untuk menciptakan kesan sadar pada sang pribadi. Pengalaman yang tidak di setujui ego untuk muncul ke sadar tidak hilang, tetapi di simpan di simpan dalam personal unconscious, sehingga taksadar pribadi berisi pengalaman yang di tekan, dilupakan dan yang gagal menimbulkan kesan sadar. Bagian terbesar dari isi tak sadar pribadi mudah di munculkan kekesadaran, yakni ingatan siap yang sewaktu-waktu dapat di munculkan ke kesadaran.  
Misalnya, remaja putri yang memiliki kompleks inferior, dia terobsesi dengan penilaian bahwa dirinya kurang berkemampuan, kurang berbakat, kurang menarik, dibanding orang lain. Dia yakin (sadar) bahwa inferior tasnya akibat dari prestasi buruknya disekolah, hanya mempunyai sedikit teman, dan tidak mampu mengemukakan kemauan dan keinginanya. 
Mula-mula, Jung berpendapat pengalaman masa kecil yang memicu berkembangnya suatu kompleks. Namun sesudah menganalisis bagaimana pengalaman masa kecil itu dapat menimbulkan kekuatan yang sangat besar, Jung menemukan faktor penyumbang timbulnya kompleks di dalam tingkat kesadaran yang paling dalam, yaitu tak sadar kolektif. 
Taksadar kolektif (collectiveunconscious)

        Disebut juga Transpersonal unconscious, konsep asli jung yang paling kontroversial; suatu sistem psikis yang paling kuat dan paling berpengaruh, dan pada kasus-kasus patologis mengungguli ego dan ketidaksadaran pribadi. Menurut Jung, evolusi makhluk (manusia) memberi cetak biru bukan hanya mengenai fisik/tubuh tetapi juga mengenai kepribadian. Tak sadar kolektif adalah gudang ingatan laten yang diwariskan oleh leluhur, baik leluhur dalam wujud manusia maupun leluhur pra manusia/binatang (ingat teori evolusi Darwin). Namun yang diwariskan itu bukanlah memori atau fikiran yang spesifik, tetapi lebih sebagai predisposisi (kecenderungan untuk bertindak) atau potensi untuk memikirkan sesuatu. Adanya predisposisi membuat orang menjadi peka, dan mudah membentuk kecendrungan tertentu, walaupun tetap membutuhkan pengalaman dan belajar. Manusia lahir dengan potensi kemampuan mengamati tiga demensi, namun kemampuan itu baru diperoleh sesudah manusia belajar melalui pengalamannya. Proses yang sama terjadi pada kecendrungan rasa takut ular dan kegelapan, menyayangi anak, serta keyakinan adanya Tuhan. 

Arkhetipe-arkhetipe
Tak sadar kolektif berisi image dan bentuk fikiran yang banyaknya tak terbatas, tetapi Jung memusatkan diri pada image dan bentuk fikiran yang muatan emosinya besar, yang dinamakan archetype (dinamakan juga dominan, primordial image, imago, mitologic image, atau pola tingkahlaku). Seperti semua gambaran primordial lainnya, arsetip adalah bentuk tanpa isi, mewakili atau melambangkan peluang munculnya jenis persepsi dan aksi tertentu. Mereka memiliki kekuatan yang sangat besar, kekuatan pengalaman manusia yang berusia ribuan tahun. 
Jung mengidentifikasi berbagai arsetip; lahir, kebangkitan (lahir kembali), kematian, kekuatan, magi, uniti, pahlawan, anak, Tuhan, setan, orang bijak, ibu pertiwi, binatang, dll. Di antaranya yang paling penting dalam membentuk kepribadian dan tingkahlaku adalah; persona, anima-animus, shadow, dan self. Keempat arsetip ini telah berkembang jauh dan sering dipandang sebagai sistem terpisah dalam kepribadian. 
Persona
Persona adalah topeng yang dipakai pribadi sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat, serta terhadap kebutuhan-kebutuhan arkhetipal sendiri (Jung,1945). Tujuan topeng adalah untuk menciptakan kesan tertentu pada orang-orang lain dan sering kali, meski tidak selalu, ia menyembunyikan hakikat pribadi yang sebenarnya.
Animasi dan Animus
Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk biseksual. Pada tingakat fisiologis, laki-laki mengeluarkan hormon seks laki-laki maupun perempuan, demikian juga wanita. Arsetip itu merupakan produk pengalaman ras manusia. Sesudah mengalami hidup bersama berabad-abad, pria menjadi memiliki sifat feminin dan sebaliknya wanita menjadi memiliki sifat maskulin. 
Anima dan animus menyebabkan masing-masing jenis menunjukkan ciri lawan jenisnya, sekaligus berperan sebagai gambaran kolektif yang memotivasi masing-masing jenis untuk tertarik dan memahami lawan jenisnya. Pria memahami wanita berdasarkan animanya, dan wanita memahami kodrat pria berdasarkan animusnya. 
Shadow
Bayangan adalah arsetip yang mencerminkan insting kebinatangan yang diwarisi manusia dari evolusi makhluk tingkat rendahnya. Bayangan bila diprojeksikan keluar apa adanya akan menjadi iblis atau musuh. Bayangan juga mengakibatkan ke dalam kesadaran muncul fikiran-perasaan-tindakan yang tidak menyenangkan dan dicela masyarakat. Karena itu bayangan disembunyikan di balik persona, atau ditahan di taksadar pribadi. Itulah sebabnya arsetip itu mempengaruhi taksadar pribadi dan pada gilirannya juga akan mempengaruhi ego. 
Diri (Self).
Konsep keutuhan dan kesatuan kepribadian dipandang sangat penting oleh jung. Self adalah arsetip yang memotivasi perjuangan orang menuju keutuhan. Arsetip self menyatakan diri dalam berbagai simbol, seperti lingkaran magis atau mandala (simbol meditasi Agama Budha, mandala dalam bahasa sansekerta artinya lingkaran), di mana self menjadi pusat lingkaran itu. Bentuk mandala itu di dalamnya sering terdapat segi empat. Lingkaran menjadi simbol dari kesatuan-ketuhanan, dan segi empat mempunyai banyak makna, bisa arah mata angin, bisa 4 elemen dunia: api-air-tanah-angin. 
Sebelum self muncul, berbagai komponen kepribadian harus lebih dahulu berkembang sepenuhnya dan ter individu asikan. Karena alasan ini, arsetip diri tidak akan tampak sebelum orang mencapai usia setengah baya. Pada usia itu orang memulai berusaha dengan sungguh-sungguh dan disiplin mengubah pusat kepribadian dari ego sadar ke ego yang berada di antara kesadaran dan ketidak sadaran (daerah tempat self). 
Simbolisasi (Symbolization) 
Simbol adalah tanda yang tampak yang mewakili hal lain (yang tidak tampak). Arsetip yang terbenam di dalam taksadar kolektif hanya dapat mengekspresikan diri melalui Simbol-simbol. Hanya dengan menginterpretasi simbol-simbol ini, yang muncul dalam mimpi, fantasi, penampakan (vision), mythe, seni, dll, dapat diperoleh pengetahuan mengenai taksadar kolektif dan arsetipnya. 
Symbol beroperasi dalam dua cara. Pertama, dalam bentuk retrospektif, dibimbing oleh insting simbol mungkin secara sederhana menunjukkan impuls yang karena alasan tertentu tidak terpuaskan. Misalnya, dansa mungkin simbolik dari perilaku seks. Retrospektif semacam ini mirip dengan konsep sublimasi dari Anna Freud. 
Sikap dan Fungsi (Attitude and Function) 
      
     Kecuali ego, semua aspek kepribadian yang telah dibahas berfungsi pada tingkat taksadar. Ada dua aspek kepribadian yang beroperasi di tingkat sadar dan taksadar, yakni attitude (introversion-ekstraversion)  dan function (thinking, feeling, sensing dan intuiting).

Sikap Introvesi (Introversion) dan Ekstraversi (Ekstraversion) 
Sikap introversi mengarahkan pribadi ke pengalaman subjektif, 
memusatkan diri pada dunia dalam dan privat di mana realita hadir dalam bentuk hasil amatan, cenderung menyendiri, pendiam/tidak ramah, bahkan antisosial. Umumnya orang introvertif itu senang introspektif dan sibuk dengan kehidupan internal mereka sendiri. Tentu saja mereka juga mengamati dunia luar, tetapi mereka melakukanya secara selektif, dan memakai pandangan subjektif mereka sendiri. 
       Sikap ekstraversi mengarahkan pribadi ke pengalaman obyektif, memusatkan perhatiannya ke dunia luar alih-alih berfikir mengenai persepsinya, cenderung berinteraksi dengan orang di sekitarnya, aktif dan ramah. Orang yang ekstravertif sangat menaruh perhatian mengenai orang lain dan dunia disekitarnya, aktif, santai, tertarik dengan dunia luar. Ekstravert lebih terpengaruh oleh dunia disekitarnya, alih-alih oleh dunia dalamnya sendiri. 

Tipologi Jung (Gabungan Sikap-Fungsi) 
Jung memakai kombinasi sikap dan fungsi ini untuk mendiskripsi
 tipe-tipe kepribadian manusia. Jadi Jung yang pada dasarnya mengembangkan teori dalam paradigma psikoanalisis, pada elaborasi konsep sikap dan fungsi memakai paradigma tipe. Dari kombinasi sikap (ekstravers dan intovers) dengan fungsi (fikiran, perasaan, pengindaraan, intuisi) akan diperoleh delapan macam tipe manusia, yakni tipe: 
ekstraversi-fikiran                       introversi-fikiran  
ekstraversi-perasaan                  introversi-perasaan    
ekstraversi-pengindraan             introversi-pengindraan
ekstraversi-intuisi                        introversi-intuisi

Dinamika kepribadian

       Variasi struktur kepribadian yang kompleks membuat elaborasi dinamika kepribadian sukar dibuat formulanya. Akhirnya, Jung mencoba mendekati dinamika itu prinsip-prinsip interaksi dan tujuan penggunaan energi psikis.
1.Interaksi antar Struktur Kepribadian
a. Prinsip Oposisi
    Berbagai sistem, sikap, dan fungsi kepribadian saling berinteraksi dengan tiga cara, saling bertentangan (oppose), saling mendukung (compensate), dan bergabung menjadi kesatuan (synthese). 
           b Prinsip Kompensasi
    Dipakai untuk menjaga agar kepribadian tidak menjadi neurotik. Umumnya terjadi antara sadar dan tak sadar; fungsi yang dominan pada kesadaran dikompensasi oleh hal lain yang direpes. 
           c Prinsip Penggabungan
   Menurut Jung, kepribadian terus menerus berusaha untuk menyatukan pertentangan yang ada. Berusaha untuk mensintesikan pertentangan untuk mencapai kepribadian yang seimbang dan integral. Integrasi ini hanya sukses dicapai melalui fungsi transenden. 
2.Enerji Psikis
a. Fungsi Enerji
    Jung berpendapat bahwa personaliti adalah sistem yang relatif tertutup, bersifat kesatuan yang saling mengisi, terpisah dari sistem enerji lainnya. Enerji yang dipakai oleh kepribadian disebut oleh enerji psikis, atau hidup (life energy). 
b Nilai Psikis (Psychic Value) 
     Suatu ide atau perasaan tertentu diakatakan memiliki value psikis yang tinggi kalau ide atau perasaan itu memainkan peran penting dalam mencetuskan dan mengarahkan tingkahlaku. 
c Kesamaan (Equivalence) dan Keseimbangan (Entropy) 
      Enerji psikis bekerja mengikuti hukum termodinamika, yakni prinsip ekuivalen dan prinsip entropi. Prinsip ekuivalen menyatakan, jumlah enerji psikis selalu tetap, hanya distribusinya yang berubah. 
d Tujuan Penggunaan Enerji
      Ketika manusia menjadi lebih efisien dalam memuaskan kebutuhan dasar dan kebutuhan biologinya, mereka mempunyai enerji lebih banyak untuk mengembangkan kultural. Tujuan-tujuan itu diraih melalui gerak progresi (Progression) dan atau gerak regresi (regression).
      
      Gerakan yang didukung enerji bukan hanya maju atau mundur. Ketika lingkungan menentang pemuasan kebutuhan insting tidak, ego mempunyai dua macam pilihan pemakaian enerji, yakni sublimasi atau represi. 
Sublimasi adalah mengubah tujuan instingtif yang tidak dapat diterima dengan tujuan yang dapat diterima lingkungan. 
Represi adalah menekan insting yang tidak mendapat penyaluran rasional di lingkungan, tanpa mengganggu ego. 

Perkembangan kepribadian

1.Mekanistik (Mechanistic), Purposif (Purposive), dan Sinkronisitas (Synchronicity)

       Pendekatan Jung untuk menjelaskan mengapa peristiwa psikis itu terjadi lebih lengkap dibanding Freud. Pandangan Freud bersifat mekanistik atau kausalistik, menurutnya semua peristiwa disebabkan oleh sesuatu yang terjadi pada masa lalu. Jung mengedepankan pandangan purposif atau teleologik, yang menjelaskan kejadian sekarang ditentukan oleh masa depan atau tujuan. Yang dinamakan prinsip sinkronisitas (synchronicity) adalah Dua peristiwa psikis yang terjadi secara bersamaan dan tampak saling berhubungan, yang satu tidak menjadi penyebab dari yang lain, karena keduanya tidak dapat ditunjuk mana yang masa lalu dan mana yang masa depan. 

2.Individuasi (Individuation)  dan Transendensi (Transcendent) 

       Tujuan hidup manusia adalah mencapai kesempurnaan yang disebut relisasi diri. Orang dikatan mencapai realisai diri, kalau dia dapat mengintegrasikan semua kutub-kutub yang bersebrangan dalm jiwanya, menjadi kesatuan pribadi yang homogen. Realisasi diri berarti meminimalkan persona, menyadari animasi atau animusnya, menyeimbangkan intoversi dan ekstraversi, serta meningkatan empat fungsi jiwa-fikiran, perasaan, pengindraan, intuisi-dalam posisi tertinggi. 

Individuasi
Proses analitik, memilah-milah, memerinci, dan meng elaborasi aspek-aspek kepribadian. Semua aspek beserta percabangan atau rinciannya harus ikut berkembang bersama-sama dalam satu kebulatan. Jiwa yang mempunyai banyak resistensi bisa memunculkan gejala-gejala neurotik. Arsetip-arsetip, insting-insting tak sadar harus diberi kesempatan untuk mengungkapkan diri melalui ego. 
Transendensi
Proses sintetik, mengintegrasikan materi taksadar dengan materi kesadaran, mengintegrasikan aspek didalam suatu sistem, dan mengintegrasikan sistem secara keseluruhan agar dapat berfungsi dalam satu kesatuan secara efektif. 


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
             Pandangan Jung tentang kepribadian adalah prospektif dan retrospektif. Prospektif dalam arti bahwa ia melihat kepribadian itu ke masa depan ke arah garis perkembangan sang pribadi di masa depan dan restrospektif dalam arti bahwa ia memperhatikan masa lampau sang pribadi. Orang hidup dibimbing oleh tujuan maupun sebab. Jung menekankan pada peranan tujuan dalam perkembangan manusia. Pandangan inilah yang membedakan Jung dengan Freud. Bagi Freud, dalam hidup ini hanya pada pengulangan yang tak habis-habisnya atas tema-tema insting sampai ajal menjelang. Bagi Jung, dalam hidup ini ada perkembangan yang konstan dan sering kali kreatif, pencarian ke arah yang lebih sempurna serta kerinduan untuk lahir kembali. Jung menyelidiki sejarah manusia untuk mengungkap tentang asal ras dan evolusi kepribadian. Ia meneliti mitologi, agama, lambing, upacara kuno, adat istiadat, kepercayaan manusia primitif, mimpi, penglihatan, simtom orang neurotic, halusinasi dan delusi para penderita psikosis dalam mencari akar dan perkembangan kepribadian manusia.
Saran
            Berdasarkan dari makalah ini terdapat banyak informasi yang terkait mengenai Psikologi Analitik Kepribadian. Semoga dengan selesainya makalah ini akan menjadi bahan motivasi untuk penyusun mencari tahu lebih jauh lagi.






DAFTAR PUSTAKA
Ryckman, Richard M. (1985). Theories of personality. Monterey:          Brooks/Cole Publishing
Samuel, William (1981). Personality, Searching for the Source of Human Behavior.     Tokyo: McGraw Hill International Book Co. 
Schultz, Duane (1981). Theories of Personality. Monterey: Brooks/Cole
       Publishing
Supratiknya,  A. (1993).  Psikologi Kepribadian 1 Teori-teori Psikodinamik
      (Klinis).  Terjemahan dari Calvin S. Hall dan Gardner Linzey, Teories of
      Personality. Jogyakarta: Penerbit Kanisius. 

Surabaya, Sumadi (1983). Psikologi Kepribadian. Jakarta: C.V. Rajawali

Analisa Kecemasan tertular wabah corona hingga berprasangka terhadap orang lain, takut tertular (UTS)

Analisa kecemasan tertular wabah corona hingga berprasangka terhadap orang lain, takut tertular. Sebuah KLB yang terjadi pada tahun ini...